Ketupat: Warisan Budaya dalam Perayaan Idul Fitri di Indonesia

March 17, 2026

Pendahuluan

Perayaan Idul Fitri di Indonesia tidak hanya identik dengan kegiatan silaturahmi dan saling memaafkan, tetapi juga dengan berbagai hidangan khas yang memiliki makna budaya. Salah satu hidangan yang paling dikenal adalah Ketupat. Makanan berbahan dasar beras yang dibungkus dengan anyaman daun kelapa muda (Janur) ini telah lama menjadi simbol tradisi Lebaran di berbagai daerah di Indonesia.

Pengertian Ketupat

Ketupat merupakan makanan yang terbuat dari beras yang dimasukkan ke dalam anyaman daun kelapa muda (janur), kemudian direbus hingga matang. Setelah matang, beras akan mengembang dan membentuk tekstur padat yang khas. Ketupat biasanya dipotong menjadi beberapa bagian dan disajikan bersama berbagai hidangan berkuah atau berbumbu khas.

Sejarah dan Asal Usul Ketupat

Ketupat mulai dikenal di Tanah Jawa sejak abad ke-15, tepatnya pada masa Kesultanan Demak. Tradisi ini diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga sebagai bagian dari upaya dakwah Islam di tengah masyarakat Jawa yang saat itu masih kuat dengan kepercayaan lokal seperti Kejawen.

Dalam menyebarkan ajaran Islam, Sunan Kalijaga menggunakan pendekatan budaya agar lebih mudah diterima masyarakat. Ketupat dipilih sebagai media dakwah karena dekat dengan kehidupan sehari-hari dan nilai tradisi masyarakat Jawa.

Melalui pendekatan ini, ajaran Islam dapat diterima secara luas, dan ketupat pun kemudian menjadi bagian penting dari tradisi perayaan Idul Fitri hingga saat ini.

Makna Filosofis Ketupat

Bagi masyarakat Jawa, ketupat bukan sekadar makanan, tetapi sarat makna simbolis. Ketupat terbuat dari tiga bahan utama, yaitu janur kuning, beras, dan santan. Janur melambangkan penolak bala, beras sebagai simbol kemakmuran, dan santan (santen) yang berasosiasi dengan kata ngapunten bermakna permohonan maaf.

Secara bahasa, ketupat atau kupat berasal dari ungkapan Jawa “ngaku lepat” (mengakui kesalahan) dan “laku papat” (empat tindakan). Nilai ngaku lepat diwujudkan dalam tradisi sungkeman, yaitu memohon maaf kepada orang tua dan sesama sebagai bentuk kerendahan hati dan penghormatan.

Sementara itu, laku papat meliputi empat makna, yaitu: Lebaran (berakhirnya Ramadhan), Luberan (berbagi rezeki), Leburan (saling memaafkan), dan Laburan (menjaga kesucian lahir dan batin). Keempatnya mencerminkan harapan agar manusia kembali bersih, saling memaafkan, dan hidup dalam kebaikan setelah Idul Fitri.

Ketupat dalam Tradisi Lebaran

Di berbagai daerah di Indonesia, ketupat menjadi hidangan yang hampir selalu hadir saat Lebaran. Ketupat biasanya disajikan bersama berbagai makanan khas lainnya, seperti Opor Ayam, Rendang, Sambal Goreng Ati, Semur Tahu/Tempe/Telur atau Daging.

Selain menjadi hidangan utama saat Lebaran, di beberapa daerah juga terdapat tradisi khusus yang berkaitan dengan ketupat. Misalnya, masyarakat Jawa mengenal perayaan Lebaran Ketupat yang biasanya dilaksanakan sekitar satu minggu setelah Idul Fitri sebagai bentuk rasa syukur dan kebersamaan.

Bahan untuk Membuat Ketupat

• Beras

• Daun kelapa muda (janur) untuk anyaman

• Air untuk merebus

Nilai Budaya yang Dapat Dipetik

Tradisi ketupat dalam perayaan Lebaran mengandung berbagai nilai budaya yang penting dalam kehidupan masyarakat, antara lain:

Nilai-nilai tersebut menunjukkan bahwa ketupat bukan hanya sekedar makanan tradisional, tetapi juga simbol kebersamaan dan keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat.

Penutup

Ketupat merupakan salah satu simbol budaya yang sangat erat dengan perayaan Lebaran di Indonesia. Melalui bentuk, cara pembuatan, serta makna filosofis yang terkandung di dalamnya, ketupat mengajarkan nilai penting seperti kebersamaan, keikhlasan, dan saling memaafkan. Oleh karena itu, tradisi ketupat tidak hanya memperkaya kuliner Indonesia, tetapi juga menjadi bagian dari warisan budaya yang patut dilestarikan.

Sumber:

  1. Jatim.nu.or.id. (28 April 2023). “Tradisi Ketupat, Akulturasi Budaya Gagasan Sunan Kalijaga”.
  2. pifa.co.id. (8 April 2023). “Bahan, Alat, dan Cara Membuat Ketupat”.
  3. ruangguru. (25 Maret 2025). “Sejarah Ketupat: Kenapa Selalu Ada Setiap Lebaran?”.
  4. detikjateng. (28 April 2023). “Filosofi dan Makna Ketupat Lebaran”.

Tempo. (10 April 2024). “10 Hidangan Lebaran Wajib yang Disantap Bersama Ketupat”.