
Pernah gak sih kamu lagi scrolling medsos atau denger berita di TV, terus lewat pembahasan soal nilai tukar Rupiah yang katanya lagi melemah alias "anjlok" dibanding Dolar Amerika? Buat kita yang masih sekolah, berita begini biasanya langsung di-skip karena kelihatan membosankan dan berasa kayak urusan bapak-bapak di kementerian aja. Tapi tahu gak, ternyata lemasnya Rupiah ini punya efek berantai yang bisa langsung berimbas ke isi dompet dan tas sekolah kita, lho!
Biar gampang dibayangin, salah satu alasan utama kenapa Rupiah kita lagi melemah itu karena kebijakan ekonomi di Amerika Serikat. Jadi, bank sentral di sana lagi menaikkan suku bunga tabungan mereka. Nah, gara-gara itu, para investor kaya dari berbagai belahan dunia langsung buru-buru memindahkan uang mereka ke Amerika karena dianggap lebih aman dan cuannya lebih pasti. Dampaknya, Dolar AS jadi barang langka yang rebutan sehingga harganya melonjak naik, sedangkan mata uang negara berkembang—termasuk Rupiah kita—malah turun nilainya karena banyak dilepas.
Terus, apa hubungannya sama kita yang masih sekolah? Efek yang paling berasa adalah harga barang-barang sehari-hari yang mulai merangkak naik. Coba deh diingat-ingat, banyak barang yang kita pakai itu bahan bakunya dibeli pakai Dolar AS. Mulai dari laptop atau HP yang kita pakai buat belajar dan mabar, kertas buku tulis, sampai bahan makanan kayak gandum buat mi instan atau kedelai buat tahu-tempe.
Pas Rupiah lagi anjlok, perusahaan-perusahaan di Indonesia harus bayar lebih mahal buat impor bahan-bahan tadi. Biar mereka gak rugi, pilihannya cuma dua: menaikkan harga jualnya di pasar, atau porsinya dikurangi tapi harganya tetap sama (istilah kerennya shrinkflation, kayak yang sering kita temuin kalau porsi makanan di kantin tiba-tiba jadi agak mini). Jadi, sekarang paham kan kenapa uang jajan kamu rasanya jadi cepat habis akhir-akhir ini?